Pola Sebaran Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) Pada Kantong Gajah Giam Siak Kecil
Witanto, Tri
Gajah Sumatera adalah spesies mamalia darat terbesar yang ada di Pulau
Sumatera yang saat ini sudah berstatus kritis (critically endangered). Salah satu
upaya pelestarian gajah Sumatera adalah memahami pola sebaran gajah. Informasi
tentang pola sebaran ini sangat berharga untuk mengembangkan strategi konservasi
yang efektif, termasuk pemetaan koridor pergerakan gajah, pengelolaan konflik
manusia-gajah, dan perlindungan habitat gajah. Penggunaan teknologi GPS (Global
Positioning System) collar atau kerah GPS pada gajah Sumatera menjadi suatu alat
yang efektif untuk mengumpulkan data dan informasi tentang pola sebaran gajah.
Data yang dikumpulkan seperti lokasi, gajah secara akurat dan terperinci. Data ini
kemudian dapat dianalisis untuk mengidentifikasi pola sebaran gajah Sumatera di
kantong gajah Giam Siak Kecil. Penelitian dilakukan di kantong gajah Giam Siak
Kecil yang merupakan salah satu lanskap penting bagi gajah Sumatera. Untuk itu
penelitian ini bertujuan memberikan wawasan baru tentang pola sebaran dan
preferensi habitat gajah Sumatera. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk
mengembangkan rencana manajemen yang berkelanjutan dalam melindungi gajah
Sumatera dan ekosistem yang mereka tinggali. Dengan demikian, upaya pelestarian
dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran, serta menjaga keberlanjutan
populasi gajah Sumatera dalam jangka panjang.
Penelitian ini menggunakan data primer seperti data survei langsung ke
lapangan dengan cara melakukan pengamatan/Groundcheck keberadaan gajah baik
dari jejak, kotoran, bekas makanan, dan bekas jalur gajah dan menggunaan data
sekunder berupa data sebaran gajah di kantong gajah Giam Siak Kecil melalui data
GPS Collar sebagai data pendukung penelitian. Pemantauan gajah menggunakan
GPS Collar dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menentukan gajah betina
tua yang dianggap sebagai pemimpin di dalam klan tersebut. Kerah GPS yang
dipasang di leher gajah betina dominan mentransmisikan gelombang ke satelit.
Gelombang tersebut menunjukkan posisi keberadaan gajah yang akan masuk ke
satelit kemudian disampaikan ke server. Data diunduh dari server menggunakan
software Microsoft excel kemudian dianalisis dengan software Arc GIS. Data
sebaran spasial akan dipetakan dengan menggunakan program ArcGIS 10.1.
Estimasi daerah jelajah populasi liar gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus)
di Kantong Gajah Giam Siak Kecil, menggunakan metode Minimum Convex
Polygon digunakan untuk melihat intensitas gajah di satu tempat.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan data GPS Collar menunjukkan
tipe-tipe tutupan lahan yang digunakan oleh gajah sebagai habitatnya yaitu Hutan
Tanaman Industri dengan persen penggunaan kawasan seluas 81,88%, lahan
pertanian 10,45%, kebun sawit 4,20%, hutan rawa 3,31%, semak belukar 0,13%
dan lahan terbuka 0,03%. Penggunaan lahan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber
makanan dan air serta kenyamanan pada habitat yang digunakan. Pola sebaran
gajah Sumatera secara visual pada penelitian ini adalah kategori mengelompok
dikarenakan ketersediaan sumber makanan dan air serta keadaan habitat yang cocok
membuat gajah betah menetap dilokasi tersebut. Lokasi yang sering dijadikan gajah
sebagai habitatnya adalah kawasan HTI, dikarenakan sumber makan pada lokasi ini
cukup melimpah. Ketersediaan air untuk minum, mandi dan berkubang juga
terdapat di HTI yang berupa kanal-kanal. Luas wilayah jelajah gajah di Kantong
Gajah Giam Siak Kecil selama tahun 2023 adalah 81.677,1 Ha. Sempit atau luasnya
wilayah jelajah gajah tergantung dari sumber makanan yang tersedia pada suatu
lokasi.
Sumatera yang saat ini sudah berstatus kritis (critically endangered). Salah satu
upaya pelestarian gajah Sumatera adalah memahami pola sebaran gajah. Informasi
tentang pola sebaran ini sangat berharga untuk mengembangkan strategi konservasi
yang efektif, termasuk pemetaan koridor pergerakan gajah, pengelolaan konflik
manusia-gajah, dan perlindungan habitat gajah. Penggunaan teknologi GPS (Global
Positioning System) collar atau kerah GPS pada gajah Sumatera menjadi suatu alat
yang efektif untuk mengumpulkan data dan informasi tentang pola sebaran gajah.
Data yang dikumpulkan seperti lokasi, gajah secara akurat dan terperinci. Data ini
kemudian dapat dianalisis untuk mengidentifikasi pola sebaran gajah Sumatera di
kantong gajah Giam Siak Kecil. Penelitian dilakukan di kantong gajah Giam Siak
Kecil yang merupakan salah satu lanskap penting bagi gajah Sumatera. Untuk itu
penelitian ini bertujuan memberikan wawasan baru tentang pola sebaran dan
preferensi habitat gajah Sumatera. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk
mengembangkan rencana manajemen yang berkelanjutan dalam melindungi gajah
Sumatera dan ekosistem yang mereka tinggali. Dengan demikian, upaya pelestarian
dapat dilakukan secara lebih efektif dan tepat sasaran, serta menjaga keberlanjutan
populasi gajah Sumatera dalam jangka panjang.
Penelitian ini menggunakan data primer seperti data survei langsung ke
lapangan dengan cara melakukan pengamatan/Groundcheck keberadaan gajah baik
dari jejak, kotoran, bekas makanan, dan bekas jalur gajah dan menggunaan data
sekunder berupa data sebaran gajah di kantong gajah Giam Siak Kecil melalui data
GPS Collar sebagai data pendukung penelitian. Pemantauan gajah menggunakan
GPS Collar dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan menentukan gajah betina
tua yang dianggap sebagai pemimpin di dalam klan tersebut. Kerah GPS yang
dipasang di leher gajah betina dominan mentransmisikan gelombang ke satelit.
Gelombang tersebut menunjukkan posisi keberadaan gajah yang akan masuk ke
satelit kemudian disampaikan ke server. Data diunduh dari server menggunakan
software Microsoft excel kemudian dianalisis dengan software Arc GIS. Data
sebaran spasial akan dipetakan dengan menggunakan program ArcGIS 10.1.
Estimasi daerah jelajah populasi liar gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus)
di Kantong Gajah Giam Siak Kecil, menggunakan metode Minimum Convex
Polygon digunakan untuk melihat intensitas gajah di satu tempat.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan data GPS Collar menunjukkan
tipe-tipe tutupan lahan yang digunakan oleh gajah sebagai habitatnya yaitu Hutan
Tanaman Industri dengan persen penggunaan kawasan seluas 81,88%, lahan
pertanian 10,45%, kebun sawit 4,20%, hutan rawa 3,31%, semak belukar 0,13%
dan lahan terbuka 0,03%. Penggunaan lahan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber
makanan dan air serta kenyamanan pada habitat yang digunakan. Pola sebaran
gajah Sumatera secara visual pada penelitian ini adalah kategori mengelompok
dikarenakan ketersediaan sumber makanan dan air serta keadaan habitat yang cocok
membuat gajah betah menetap dilokasi tersebut. Lokasi yang sering dijadikan gajah
sebagai habitatnya adalah kawasan HTI, dikarenakan sumber makan pada lokasi ini
cukup melimpah. Ketersediaan air untuk minum, mandi dan berkubang juga
terdapat di HTI yang berupa kanal-kanal. Luas wilayah jelajah gajah di Kantong
Gajah Giam Siak Kecil selama tahun 2023 adalah 81.677,1 Ha. Sempit atau luasnya
wilayah jelajah gajah tergantung dari sumber makanan yang tersedia pada suatu
lokasi.
Informasi Repositori
- Jenis
- Thesis
Detail Information
- Tahun
- 2024
- Bahasa
- id
- Last Updated
- 2024-11-25T04:44:53Z
Subjects / Keywords
Akses Dokumen
Hak Cipta & Lisensi
Konten ini bersumber dari Repositori Institusi Kemendikdasmen.
Hak cipta dimiliki oleh institusi pencipta karya. Dilisensikan di bawah Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International (CC BY-NC 4.0).
Metadata di-harvest melalui protokol OAI-PMH sesuai SK Sekjen Kemendikbudristek No. 18/M/2022.
Computer Science, Information & General Works
Philosophy & Psychology
Religion
Social Sciences
Language
Pure Science
Applied Sciences
Art & Recreation
Literature
History & Geography